Bagaimana Sejarah DMR?
Pemeriksaan Ujian menggunakan scanner dan komputer telah dikenal sejak puluhan tahun silam. Namun harga dan cost of ownership-nya sangat mahal. Selain itu, masih banyak kekurangan lain, seperti lembar jawab yang kurang fleksibel dan pengisian yang harus dengan bulatan.
Adalah Prof. Dr. Ir. Ing. Iping Supriana, DEA, guru besar Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB yang menjadi penggagas dari produk DMR. Bersama Tim Riset Unggulan ITB tahun 2002/2003 beliau mengembangkan Digital Mark Reader (DMR), sebuah alat pemeriksa ujian berbiaya rendah yang kemudian dinobatkan menjadi Winner of Indonesia – Asia Pacific ICT Award 2004 kategori Best of Education & Training.
Para peneliti yang terlibat dalam pengembangan DMR kemudian mendirikan Codena sebagai perusahaan yang meneruskan riset DMR yang sumber dananya diambil dari pemasaran produk DMR itu sendiri.
DMR adalah salah satu karya fenomenal asli Indonesia yang sangat bermanfaat bagi Indonesia. DMR selalu dipasangkan dengan alat pemindai (image scanner) untuk melakukan pemindaian (scanning) Lembar Jawab Komputer (LJK).
Selain masih terus mengembangkan DMR dan menjalankan tugas sebagai dosen dan periset di ITB, pada periode 2007-2010 dan 2010-2014 Prof. Dr. Iping Supriana juga diberi amanat sebagai Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Informatika dan Komputer (Aptikom) Wilayah 4 – Jawa Barat dan Banten yang beranggotakan 160 Perguruan Tinggi Bidang Informatika dan Komputer.


Digital Mark Reader (DMR) merupakan aplikasi yang memungkinkan penggunaan scanner dokumen untuk pemeriksaan form ujian, kuesioner dan entri data dengan teknologi pengenalan tanda. DMR terdiri atas dua aplikasi: DMR Editor (untuk membuat LJK) dan DMR Extractor (untuk memproses LJK).